Ternyata Obatnya Namanya Bodrex

Posted on
Penyakit memang datang tidak diketahui kapan waktunya, dimana tempatnya, dan keadaan seperti apa. Tidak seorangpun tahu akan hal itu, begitu pula dengan keluarga penulis yang mendapatkan jatah sakit mendadak yaitu sang ayah penulis. 
Kejadian ini bermula ketika ayah pulang dari pekerjaan dan tidak mensegerakan berbuka dikarenakan menjadi imam di sebuah masjid di kampung kami. Sekilas sebagai pemberitahuan masjid tersebut bernama Masjid Baitul Rahman, salah satu masjid kebanggaan kampung kami. Pada saat berbuka Ayah hanya meneguk segelas air teh kemudian berangkat ke masjid untuk mengimami sholat magrib. Selanjutnya keadaan seperti biasa seperti mengerjakan shalat isya, tarawih dilanjut tadarus. 

Saat sahur kira-kira jam 02.30 kami sekeluarga dibangunkan oleh ibunda. Ya adik laki-laki dan perempuan, penulis, beserta keluarga yang belum bangun lainnya tanpa kecuali. Salah satu al yang paling sulit bagi penulis jika bangun pagi. Singkat cerita kejadian tidak terduga terjadi, ayah yang sedang bersila dari tempat sholat hendak bangun dan menuju meja makan. ketika bangun ayah seperti terhuyung-huyung dan memegang tembok. “Alhamdulillah kepala ayah didatangi tamu”, kata ayah sambil berjalan ke tempat duduk. “Kenapa yah? ada yang salah ya?”, tanya ibu. Tidak apa-apa, ini kepala sedikit pusing, mungkin terlalu lama duduk kali. Ibu yang faham karakter ayah segera mencari obat di kotak PPPK, tetapi tidak menemukannya. Tidak ada obat yang dibeli sejak beberapa minggu ini sehingga yang ada didalam kotak hanya beberapa kain kassa, perban, betadine, dan beberapa obat yang sudah tidak terbungkus. “Ayah, obat pusingnya ga ada nih, gimana donk? yang lainnya obat ga jelas ini”, kata ibu. Penulis dan adik yang duduk bersebelahan saling melihat, dalam benak kami mungkin tersirat “wah alamat ga kemasjid nih ayah”. 
Singkat kata karena ibu sedikit panik, ayah mencoba menenangkan. “Bu, disitu ada obat yang ga jelas yah? bisa tolong dibawa kesini aja”, pinta ayah. “Obatnya sudah tidak ada tulisan apa-apa loh yah, cuman ditutupin oleh plastik transparan putih”, kata ibu. Iya tidak apa-apa bawa kesini aja. Setelah diambil dan diberikan ke ayah, sambil berdoa “Allahumma robbannasi asfi, la syifa’a illa syifauka” diminum obat yang tidak dikenal tersebut.  Walllohu alam, setelah meminum obat tersebut ayah tetap melaksanakan aktifitas biasanya tanpa ada masalah yang berarti.
Penulis penasaran dengan obat yang diminum ayah, sekilas pada saat ibu menyerahkan obat penulis melihat bahwa obat tersebut berbentuk bulat, berwarna merah dan putih, dan akhirnya menyelidikinya. Penulis mencari toko  obat dan bertanya tentang obat berciri-ciri seperti diatas kepada pelayannya. Ternyata oh ternyata obat tersebut bernama BODREX. Penulis akhirnya membeli beberapa sebagai cadangan dirumah. Semenjak kejadian tersebut penulis yakin bahwa BODREX merupakan obat yang tepat untuk menghilangkan sakit kepala bahkan BODREX juga sangat cepat menanganinya.
Lain hari di saat berbuka, penulis mencoba memberitahu ke keluarga bahwa obat yang diminum oleh ayah kemaren adalah BODREX. Ya, obat yang tidak ada asal-usulnya tersebut bernama BODREX. Kemudian ayah bercerita dan penulis pikir sangat bijaksana. Kata ayah, “Obat itu hanyalah sebagai perantara saja, akan tetapi yang menyembuhkan hanyalah Allah semata”. 

Postingan terpopuler:

  • menara jam coc
  • aula tukang perhari coc
  • base th 9 teka teki
  • cara meningkatkan master tukang dalam coc
  • penjelasan sneak peek war coc